Headset Gaming Thermaltake TteSports – Shock One
Audio memang harus diakui, selalu menjadi elemen yang memang hanya dapat dinilai dari pengalaman personal yang ia ciptakan. Mengapa? Karena dengan beragam elemen yang membentuknya serta kecenderungan dominasi elemen yang berbeda satu sama lain, penikmat audio selalu memiliki preferensi yang berbeda satu sama lain. Lusinan angka memang dihadirkan untuk mendefinsikan kemampuan sebuah perangkat audio, namun ia tidak pernah menjadi sesuatu yang bisa disimpulkan secara teknis. Berangkat atas kepercayaan inilah, kami menjajal sebuah headset baru yang tiba di meja Jagat Play. Kali ini datang dari Thermaltake yang kian memperkuat barisan TteSports dengan beragam perangkat yang akan memanjakan kebutuhan gamer. Ucapkan selamat datang kepada Thermaltake Shock One!
Walaupun mendapatkan predikat sebagai sebuah peripheral gaming, hampir tidak mungkin untuk menilai kinerja sebuah headset hanya dari “nilai jual” utamanya tersebut. Karena pada akhirnya, headset selalu diposisikan sebagai pintu gerbang untuk mendapatkan pengalaman multimedia yang lebih sempurna, tidak hanya untuk video game, tetapi juga musik dan film. Lantas, seberapa baik Thermaltake Shock One membuktikan dirinya? Kami akan mengupasnya lebih dalam untuk Anda, dengan pengalaman yang dihadirkan sebagai fokus review.
Desain dan Fitur
Warna merah menyala di kedua sisi earpad Shock One memperlihatkan kesan solid, sekaligus juga elegan. Ia cukup membuat identitas Anda sebagai gamer tercermin.
Desain microphone yang tidak kalah kerennya!
Bentuk kotak dan warna merah yang menyala di kedua sisi earpads, Thermaltake Shock One memang menawarkan kesan pertama yang maskulin, setidaknya cukup untuk membuat aura Anda sebagai individu yang mencintai PC gaming mengalir kentara. Bentuk yang terlihat solid dan microphonenya yang elegan semakin memperkuat hal tersebut. Salah satu hal yang menarik dari desain Thermaltake Shock One adalah earpad yang ia tawarkan. Seperti yang kita tahu, hampir setiap gamer memiliki preferensi kenyamanan yang berbeda terhadap bahan earpad yang ada. Terlepas dari besar earpad yang mampu menutup keseluruhan daun telinga, keputusan untuk membeli sebuah headset seringkali didasarkan pada bahan yang digunakan, kulit sintetis atau busa. Keduanya memang memberikan sensasi dan tingkat kenyamanan personal yang berbeda.
Seolah dibangun untuk menjadi lebih adaptif bagi selera yang berbeda-beda, tidak tanggung-tanggung, Thermaltake Shock one langsung menyediakan dua jenis earpad di paket penjualan. Benar sekali, Anda bisa mengganti-ganti earpad dengan bahan kulit sintetis ataupun busa sesuai dengan preferensi Anda. Tidak hanya dari segi kenyamanan, namun keduanya tentu menghasilkan efek dan kualitas audio yang berbeda. Cara menggantinya juga sangat mudah, Anda hanya tinggal mencabutnya dengan lembut dengan proses pemasangan yang juga tidak sulit. Bagaimana dengan preferensi kami sendiri? Walaupun Shock One menjadikan earpad berbahan sintetis sebagai default, namun earpad busa akan menjadi ujung tombak terbaik untuk menawarkan pengalaman multimedia terbaik ke telinga Anda. Ia menawarkan detail dan kualitas suara yang lebih mumpuni untuk Shock One, terlepas dari kelemahannya untuk meredam suara tersebut keluar.
Desain dan Fitur Menyematkan tombol multimedia terpisah, Anda bisa mengatur volume, mematikan mic, mute, mengatur lampu sisi, dan juga mengunci semua fungsi tersebut dengan tombol kecil ini.
Tidak perlu khawatir Anda akan kewalahan atau repot melakukannya. Earpad ini dapat digonta-ganti dengan sangat mudah.
Shock One juga memuat sebuah tombol multimedia terpisah yang dapat Anda sematkan untuk menghidupkan atau mematikan fungsi tertentu dengan super cepat. Ada tombol volume, mute, dan tombol untuk mematikan mic secara instan. Takut tidak sengaja menekan salah satunya? Anda juga bisa mengunci fungsi lewat tombol di sisi, atau sekedar mematikan lampu trademark di sisi earpad jika dirasakan mengganggu. Salah satu nilai jual terbaik Shock One, selain kesempatan untuk memilih earpad yang dapat Anda gunakan, adalah bentuknya yang dapat dilipat menjadi jauh lebih ringkas. Ini tentu saja akan memudahkan Anda yang mobile untuk senantiasa membawa headset andalan Anda ini kemanapun Anda berada. Namun ingat, Thermaltake Shock One adalah sebuah headset yang hanya memiliki konektor port USB untuk dapat dinikmati. Pastikan terlebih dahulu perangkat Anda memiliki port ini, mengingat sebagian besar perangkat multimedia portable saat ini menggunakan 3.5mm jack sebagai jembatan utama
Menyematkan tombol multimedia terpisah, Anda bisa mengatur volume, mematikan mic, mute, mengatur lampu sisi, dan juga mengunci semua fungsi tersebut dengan tombol kecil ini.
Memberikan fungsi yang lebih portable, Shock One juga didesain dapat dilipat sehingga lebih ringkas untuk dibawa kemanapun Anda inginkan.
Ada driver yang bisa Anda gunakan untuk mengkustomisasi kualitas audio Shock One dari sisi perangkat lunak.
Shock One hadir dengan ukuran yang cukup nyaman, baik kerangka maupun earpad yang ada.
Spesifikasi teknis headset Thermaltake Shock One ini meliputi:
Headset
Driver unit: 40mm
Frequency Response: 20Hz – 20KHz
Impedance: 32 ohm
Sensitivity: 114+/-3dB
Max.input: 100mW
Cable length: 3m
Connector: USB
Microphone
Directivity: Bidirectional with noise cancellation
Impedance: 2.2 k ohm
Frequency: 100-10KHz
Sensitivity: -45dB+/-3dB
Thermaltake Shock One, Seberapa Baik?
Thermaltake Shock One, Seberapa Baik?
Dilema, ini mungkin kata pertama yang menggambarkan kondisi kami ketika harus menjajal Thermaltake Shock One ini untuk beragam fungsi multimedia yang ada. Mengapa? Dua pilihan earpad yang ditawarkan di paket penjualannya datang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sang earpad busa memang menawarkan kualitas audio yang lebih baik dan mendetail, namun tidak begitu nyaman digunakan dalam waktu yang lama. Sementara di sisi yang lain, ear pad dengan bahan kulit sintetis bertolak belakang, kualitas audio yang tidak begitu baik namun akan membuat telinga Anda betah mengenakan Shock One ini dalam waktu yang lama. Namun setelah menimbang dan menilik preferensi pribadi, kami akhirnya lebih memilih untuk menjadikan earpad busa sebagai standar. Apalah arti sebuah headset yang nyaman digunakan namun tidak mampu menjalankan fungsi dasarnya, menawarkan audio dalam kualitas terbaik, bukan? Dengan menggunakan earpad yang lebih baik ini, kami menjajal Shock One dalam tiga tugas besar: musik, film, dan tentu saja, gaming.
Film
Sebuah film definisi tinggi memang memanjakan di sisi visual, namun tetap saja, ia membutuhkan sebuah audio device yang mumpuni untuk menangkap pengalaman yang tentu saja berusaha diwujudkan oleh sang sutradara, apalagi yang sekelas Christopher Nolan. Kami menjajal Thermaltake Shock One ini dengan versi HD 1080p dari film ambisius Nolan tahun lalu – The Dark Knight Rises. Walaupun mengusung sisi drama sebagai nilai jual utama, namun seri terakhir dari trilogi ini memang menawarkan sisi aksi yang tidak kalah kentalnya. Detail yang ditawarkan dari Shock One ini memang cukup untuk memanjakan telinga Anda, dari sekedar mendengar dialog menyentuh dari Alfred, atau mencicipi pertarungan tangan kosong antara Batman melawan Bane. The best part? Anda bisa mendapatkan pengalaman yang lebih signifikan dengan menghidupkan fitur DTS – movie dari driver yang ada. Ia akan memberikan boost pengalaman yang tidak kalah dengan yang Anda dapatkan di bioskop terdekat di kota Anda.
Musik
Untuk membuktikan dan mendapatkan gambaran yang lebih mendetail tentang kemampuan headset ini, kami juga menjajalnya dengan beragam genre musik yang ada. Daripada terpaku pada FLAC yang memang menawarkan kualitas yang lebih sempurna, kami memilih untuk menjajalnya di format yang lebih populer – MP3 128 kbps. Ada empat lagu yang dipilih: Baauer – Harlem Shake (Techno), X Japan – Rose of Pain (accoustic version), Steel Panther – Eye of A Panther (Metal), dan Buckethead – Jordan (instrumental). Menjajal setiap darinya dengan earpad kulit sintetis menjadi bencana tersendiri. Anda akan menemukan kualitas suara yang terkesan terperangkap, kacau, dan tanpa detail sama sekali, seolah tidak mencerminkan potensi Shock One yang sebenarnya. Begitu Anda menggantinya dengan earpad busa, Anda seolah menemukan pencerahan bagaimana seharusnya headset ini digunakan. Anda akan menemukan ruang suara yang cukup luas dan penuh detail untuk dinikmati. Walaupun harus diakui elemen bassnya masih terasa jauh lebih kentara, seperti yang kami temukan di Eye of A Panther dan Jordan. Namun untuk sekedar techno ataupun akustik, Shock One mampu menjalankan tugasnya dengan sempurna. Salah satu yang cukup disayangkan adalah kehadiran preset pada driver yang tidak memberikan kontribusi signifikan sesuai dengan masing-masing mode. Pada akhirnya, kami lebih memilih untuk memilih “None”, “Jazz” atau “Classic”, terlepas dari genre apapun yang tengah kami nikmati.
Gaming
Momen kedatangan Thermaltake Shock One ini ke meja JagatPlay memang harus diakui sangat tepat. Bagaimana tidak? Bertepatan dengan dirilis game survival-horror Dead Space 3 dari Visceral Games yang memang terkenal karena kebutuhannya akan audio yang mumpuni, Shock One menemukan sang penantang yang tak dapat diremehkan. Lupakan preset gaming yang ia tawarkan dan tidak signifikan, kami langsung menjajalnya dengan setting yang juga kami terapkan di sisi film dan musik. Tidak perlu diragukan lagi, Shock One memperlihatkan kemampuannya sebagai sebuah headset gaming. Suasana horror yang tercipta dari suara, pekikan, atau sekedar kesunyian yang ada di Dead Space 3 direpresentasikan dengan sangat baik oleh Shock One ini. Ia melakukannya dengan sangat baik. Kami juga menjajal microphonenya ketika bertempur di DOTA 2 dan juga mampu tampil memuaskan.
Kesimpulan
Thermaltake Shock One memang masih mampu membuktikan diri sebagai alternatif headset gaming yang cukup menarik untuk dilirik. Ia membuktikan diri sebagai perangkat yang adaptif untuk beragam selera gamer yang tentu saja, berbeda-beda. Pilihan earpad, driver, dan bentuk ringkasnya menjadi nilai jual tersendiri
Dari sisi desain dan kemampuan yang ditawarkan oleh Thermaltake Shock One, headset gaming ini memang layak untuk dilihat sebagai peripheral audio yang adaptif, setidaknya cukup untuk membuatnya sebagai ujung tombak bagi selera gamer yang berbeda-beda. Ia menawarkan dua jenis earpad yang bisa digonta-ganti dengan mudah, tergantung preferensi pribadi yang ada. Tidak hanya itu saja, ia juga menjadi pilihan bagi gamer yang mobile dan senantiasa ingin menjadikan Shock One sebagai jembatan multimedia dalam kondisi apapun. Anda bisa melipatnya secara langsung dan otomatis menjadikannya ringkas. Tidak hanya perangkat keras, Thermaltake juga menyediakan driver dengan berbagai macam preset untuk membantu gamer mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Sayangnya ada beberapa kekurangan yang pantas untuk dicatat dari Thermaltake Shock One ini. Keputusan untuk menjatuhkan pilihan pada USB sebagai satu-satunya konektor tentu membuatnya sulit untuk digunakan untuk perangkat multimedia portable yang sebagian tetap bertumpu pada jack 3.5mm. Ini seolah minihilkan fungsi lipatnya yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk hal ini. Kelemahan kedua? Tentu pada desain earpad dengan bahan kulit sintetisnya. Walaupun lebih nyaman digunakan untuk waktu yang lama, kualitas audio yang dihasilkan darinya bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Seolah tertahan dan memantul tanpa belas kasihan, earpad ini mengacaukan setiap detail suara yang ada, bahkan cukup untuk menjatuhkan kualitas yang tidak sesuai dengan harga Shock One ini. Untungnya, kesalahan ini dapat ditebus dengan earpad busa yang dapat diandalkan.
Terlepas dari semua kekurangan yang ada, Thermaltake Shock One memang masih mampu membuktikan diri sebagai alternatif headset gaming yang cukup menarik untuk dilirik. Ia membuktikan diri sebagai perangkat yang adaptif untuk beragam selera gamer yang tentu saja, berbeda-beda. Pilihan earpad, driver, dan bentuk ringkasnya menjadi nilai jual tersendiri.
Thermaltake Shock One sendiri dibanderol dengan kisaran harga USD 90.
sumber:

















0 komentar:
Posting Komentar