This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

FEATURED

Jumat, 03 Mei 2013

Review Headset Gaming Creative Sound Blaster Recon3D Omega

Creative Sound Blaster Recon3D Omega
Jika kita membicarakan salah satu elemen yang mungkin seringkali dinomorduakan terlepas dari statusnya yang terhitung krusial ketika bermain game, maka audio tampaknya pantas untuk menduduki list yang satu ini. Apa pasal? Sebagian besar gamer, apalagi mereka dengan budget yang terbatas, lebih terperangkap pada pikiran untuk mendapatkan visualisasi grafis semaksimal mungkin dan cenderung mengesampingkan elemen yang lain. Hasilnya? Pengalamannya sendiri menjadi tidak sebaik yang diperkirakan. Padahal dengan hadirnya rangkaian peripheral gaming audio yang kini bertebaran di pasaran, gamer sebenarnya memiliki opsi alternatif yang bisa diandalkan. Salah satunya? Headset gaming yang baru tiba di meja kami – Creative Sound Blaster Recon3D Omega.

Headset yang satu ini tentu saja menarik perhatian kami. Bagaimana tidak? Selain desain elegan yang membalut permukaannya, statusnya  sebagai sebuah headset gaming wireless tentu saja menawarkan sensasi dan fungsi yang lebih unik dibandingkan dengan peripheral gaming konvesional lainnya.Tidak hanya itu saja, untuk sebuah fungsi yang membutuhkan akurasi dan ketepatan suara untuk pengalaman yang lebih maksimal, statusnya yang nirkabel tentu saja berpotensi menghadirkan segudang masalah. The best part? Ia hadir dengan sebuah sound card yang diklaim mampu menyempurnakan fitur Sound Blaster Recon3D ini dengan lebih baik. Lantas seberapa baik performa Creative Sound Blaster Recon3D Omega ini? Kita akan membahas pengalaman yang ia tawarkan.

Desain dan Fitur

Dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan dibalut dengan warna hitam yang elegan, lampu biru lembut yang menyala di sisi headset dan sound card ini memperkuat sisi kosmetik yang ada.

Dengan ukuran yang tidak seberapa besar, Sound Blaster Recon3D Omega memang terlihat cukup elegan, apalagi dengan warna hitam yang menjadi identitas utamanya. Dengan lampu berwarna biru lembut yang menyala setiap kali headset ini dikenakan, Creative tampaknya juga menjadikan sisi kosmetik sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari seri Sound Blaster kali ini. Hal ini juga tercermin dari desain transmitter-nya yang juga menawarkan atmosfer yang sama. Ujung tombak fungsi wireless ini memuat segudang tombol shortcut untuk mengakses beragam fungsi dan fitur yang ditawarkan secara instan. Jadi Anda tidak perlu lagi repot untuk harus selalu mengotak-ngatik driver yang ada.

Sebagai sebuah headset dengan ukuran yang terhitung proporsional, Recon3D Omega menawarkan ear pad yang sangat nyaman. Dengan bahan kulit sintetis yang menyelimuti busa yang lembut, telinga Anda akan termanjakan olehnya, walaupun dikenakan dalam waktu yang lama. Sudut putar pad-nya yang juga cukup luas, Anda bisa menyesuaikan diri untuk menggunakan headset ini dalam posisi telinga paling nyaman. Tidak seperti headset dengan bahan serupa yang keras dan terasa menekan, Recon3D Omega ini mendarat lembut di telinga, meminimalisir panas dan potensi munculnya keringat berlebih. Namun sayangnya, komposisi ini tidak lantas menjadi formula mumpuni untuk memerangkap suara yang ada. Pada volume tertentu, suara yang dihasilkan dapat terdengar keluar.
Dengan kulit sintetis yang menyelimuti busanya yang lembut, Recon3D Omega ini tidak akan terasa menekan di kulit. Ia tidak akan membuat telinga Anda berkeringatan.
Menutup gendang telinga dengan baik, sayangnya headset ini kurang dapat memerangkap suara yang ada. Dalam volume tertentu, Anda akan berhadapan dengan suara yang keluar.

Nama besar “gaming” yang disandang oleh Recon3D Omega memang bukan sekedar klaim omong kosong, dan Creative membuktikan hal tersebut. Tidak sekedar dapat difungsikan sebagai peripheral untuk PC, lewat sebuah mekanisme sederhana, Anda juga dapat memanfaatkan kualitasnya yang mumpuni untuk mendapatkan pengalaman audio yang maksimal ketika Anda sedang bermain game di dua konsol definisi tinggi – Playstation 3 dan XBOX 360. Bagian terbaiknya? Anda dapat melakukan semua ini dengan instruksi yang sederhana. Lewat buku manual yang disisipkan di paket penjualan dan deskripsi lewat gambar, Anda tidak perlu kerepotan untuk dapat memastikan fungsi ini berjalan dengan baik, apalagi dengan beragam kabel yang juga sudah disediakan di dalamnya. Lewat beberapa tombol shortcut yang terdapat di dalam transmitter yang ada, Anda bisa mengadaptasikan serangkaian fitur yang ada dengan cepat.

Kualitas yang ditawarkan Creative di Recon3D Omega ini juga didukung lewat perangkat lunak yang terhitung mumpuni. Seolah didesain untuk mengeluarkan setiap jengkal potensi yang ia tawarkan, driver ini akan membantu mengkustomisasi Recon3D Omega sesuai dengan preferensi audio pribadi Anda masing-masing. Kita tidak hanya sekedar membicarakan equalizer dan preset yang ada, tetapi juga serangkaian konfigurasi menu, dari mengatur atmosfer THX hingga mencari kejernihan suara yang memang Anda butuhkan. Dengan user-interface yang sederhana, Anda akan dapat langsung merasakan perbedaan ini secara real-time, untuk setiap opsi yang Anda pilih untuk hidup dan matikan. Maka untuk Anda yang memang mencari pengalaman audio yang lebih spesifik, driver ini akan membantu Anda mencapai kebutuhan ini.
Sound Card ini sendiri memiliki beragam shortcut untuk fungsi dan fitur yang ada, termasuk kemudahan untuk menggunakannya tidak hanya untuk PC, tetapi juga Playstation 3 dan XBOX 360.
Creative menyuntikkan “Shoot Mode” – sebuah fitur yang memang didesain khusus untuk memaksimalkan detail suara di game tertentu, khususnya FPS.
User-interface yang sederhana dengan berbagai kustomisasi yang dapat dilakukan untuk menghasilkan preferensi audio masing-masing, Anda bisa merasakan perbedaannya secara real-time.

Transmitter Recon3D Omega yang disuntikkan di dalamnya juga memuat dua tombol ekstra yang akan mampu beradaptasi pada kebutuhan multimedia Anda, tidak hanya gaming, tetapi juga film. Di sisi gaming, headset ini menyediakan sebuah fitur unik bernama “Shoot Mode” yang jika dihidupkan, akan secara otomatis meningkatkan sensivitas suara pada setiap efek yang muncul dari game. Kita membicarakan derap kaki yang lebih keras dan mudah dibedakan, suara senjata yang lebih fokus, hingga ledakan. Mode seperti tentu saja menjadi ekstra tambahan yang luar biasa untuk gamer yang memang kompetitif di dunia FPS, dimana detail suara akan sangat menentukan hidup dan matinya karakter yang kita gunakan. Sementara untuk mode THX, ia akan menjadi fitur yang Anda agung-agungkan ketika mencicipi film HD yang ada. Menawarkan sensasi layar lebar dalam lingkup kecil telinga Anda. Kedua fitur inilah yang menjadi kekuatan utama Recon3D Omega ini.
The power of wireless!
Ada satu keunggulan dari posisinya sebagai headset nirkabel yang mungkin terdengar minim, namun ternyata berefek besar ketika kami menjajalnya ketika gaming. Dengan jarak yang tidak tergantung pada kabel, Anda bisa membawa headset ini dalam jarak yang cukup jauh. Fitur yang mungkin tidak terdengar signifikan ketika Anda menghabiskan sebagian besar waktu di depan komputer, namun ternyata menguntungkan di beberapa situasi, seperti yang sempat terjadi di kami. Kehausan tetapi di saat yang sama tengah menunggu giliran untuk masuk server ke DOTA 2, kami berhadapan dengan dilema besar. Mengambil minum dan kemungkinan tidak bergabung dalam match yang sudah siap atau dengan sabar menunggu dan kehausan, tetapi memastikan diri ikut dalam match yang ada. Dengan Recon3D Omega ini, Anda bisa saja melenggang mengambil minum sembari memerhatikan feedback audio dari persiapan match DOTA 2 yang tengah tersiar di PC. Sebuah solusi yang secara mengejutkan, sangat membantu.

Lantas bagaimana dengan spesifikasi teknis yang ada? Berikut adalah list lengkapnya:

Headphone

  • Driver Units: 50mm Neodymium magnet
  • Frequency Response:    20Hz ~ 20kHz
  • Impedance: 32ohms
  • Sensitivity: 102dB/mW
Microphone
  • Microphone Type: Noise Canceling Condenser
  • Frequency Response: 100Hz ~ 6.5kHz
  • Impedance: <2.2kohms
  • Sensitivity: -40dBV/Pa
Sound Blaster Recon3D
  • Playback:  24-bit Digital-to-Analog conversion (up to 48 kHz to stereo output)
  • Audio Inputs: One 3.50 mm (1/8-inch) stereo jack for Microphone In, One 3.50 mm (1/8-inch) stereo jack for Aux In/Optical In
  • Audio Output:   One 3.50 mm (1/8-inch) stereo jack for Analog Line Out or Headphones Playback
  • Interface: USB powered
  • Tactic Link™ Wireless Interface
  • Wireless Technology:  Uncompressed 2.4GHz

Creative Sound Blaster Recon3D Omega, Seberapa Baik?
Recon3D Omega, Seberapa Baik?
“Wireless” dan kualitas audio memang bukanlah dua buah kata yang seringkali bersandingan dalam sebuah atmosfer yang positif. Sifatnya yang nirkabel tentu saja berpotensi menghasilkan beberapa masalah krusial, terutama delay dan resepsi suara yang buruk. Berangkat dari pengalaman buruk serupa di masa lalu inilah, kami menjajal Recon 3D Omega ini. Hasilnya? Mengejutkan. Seolah menghancurkan segala macam prejudice yang sempat bagi bangun untuk perangkat audio wireless, Recon 3D Omega memperlihatkan kualitasnya. Kualitas audio ditawarkan secara maksimal, tanpa ada masalah. Seolah Anda tengah menggunakan sebuah headset dengan kabel yang mumpuni.

Salah satu kelemahan lain dari Wireless adalah masalah ketahanan baterai. Untuk memastikan dirinya dapat berfungsi tanpa kabel, Creative tentu harus menyuntikkan Recon 3D Omega dengan build baterai yang bisa diandalkan. Setidaknya cukup untuk memastikan bahwa gamer tidak harus bolak balik melakukan charge dan justru berpotensi merusak kenikmatan bermain yang ada. Untung saja, Creative juga memikirkan dengan matang hal ini. Lewat uji coba yang ada, ia mampu bertahan lebih dari 5 jam pemakaian secara terus-menerus. Bagaimana jika ia habis di tengah game yang tidak mungkin Anda tinggalkan? Anda tetap bisa menggunakan headset ini walaupun sedang berada dalam kondisi di-charge.

Dua keunggulan di atas tentu saja sudah cukup untuk membantu gamer yang sempat meragukan status “wireless” dari Recon 3D Omega ini, apalagi menyebutnya sebagai peripheral untuk gaming. Namun seperti perangkat audio utama, kita tentu tidak hanya akan menggunakan headset ini untuk menjajal serangkaian game-game andalan kita. Sudah menjadi hal yang tidak terhindarkan untuk memaksimalkannya dalam fungsi multimedia yang lain juga, dari mendengarkan musik hingga menikmati film-film definisi tinggi yang ada. Pertanyaannya kini, seberapa nyaman?

Film
Nama THX yang disandang oleh headset yang satu ini bukanlah sekedar gimmick tanpa arti. Seperti menikmati sebuah mini-theater yang terbungkus di telinga kecil Anda, Recon 3D Omega menawarkan kualitas audio sinema yang luar biasa. Kami sendiri menjajalnya di sebuah film animasi Jepang berjudul Sword of Strangers dalam definisi tinggi. Film dengan setting di masa feodal ini memang tidak menawarkan ledakan di sana-sini, namun tetap memberikan tantangan lewat serangkaian detail suara yang terus hadir. Kita membicarkan derap kaki di lahan sunyi, denting pedang, suara angin, hingga percakapan yang menarik di dalamnya. Recon 3D Omega tidak menghadapi tantangan yang berarti. Lewat fitur THX yang ditawarkan dan konfigurasi yang bisa Anda setting dengan mudah, Recon 3D Omega menyediakan atmosfer dan pengalaman audio sinema yang dekat dengan telinga Anda.

Musik
Preferensi terhadap musik memang lebih personal dibandingkan dengan gaming atau film. Dengan begitu banyak elemen yang bermain di dalam dan dinamika yang bisa terjadi, semua orang memiliki “standar” nyamannya sendiri-sendiri. Recon 3D Omega menjalankan tugas ini dengan baik, dengan menawarkan sisi detail yang masih pantas untuk diacungi jempol, apalagi bagi Anda yang memang lebih senang dengan dentuman bass yang terasa kuat. Ruang suaranya sendiri terasa sempit, seperti Anda sedang berhadapan dengan sumber suara dalam jarak yang sangat dekat. Kami sendiri menjajal beberapa lagu dengan format .mp3 dan beragam genre: Daft Punk – Get Lucky, Black Sabbath – God is Dead,  Johnny Cash – Hurt, dan X Japan – Amethyst (accoustic version). Untuk lagu-lagu yang terhitung pelan, Recon 3D Omega dapat melakukan tugansya dengan baik. Anda akan mendapatkan detail yang maksimal untuk setiap suara yang muncul, walaupun dalam ruang suara yang kecil. Dengan tanpa memanfaatkan EQ dan fungsi THX yang dimatikan, Anda akan dapat lebih menikmati fungsi yang satu ini.

Gaming
Anda tidak bisa menyebut perangkat Anda sebagai sebuah peripheral gaming jika ia tidak mampu menawarkan pengalaman gaming yang lebih sempurna. Seperti layaknya keunggulan yang kami dapatkan ketika menjajal film-film definisi tinggi, Recon 3D Omega juga memperlihatkan tajinya di fungsi ynag satu ini. Suara dentuman, aksi, dan detail suara yang ada akan menawarkan sensasi gaming yang lebih sempurna, apalagi jika Anda menjajalnya di genre dengan sisi aksi yang kental seperti FPS. Diperkuat dengan “Shoot Mode”yang diklaim akan mampu menghadirkan detail efek suara yang lebih jernih, kami membuktikannya ketika menjajal Counter-Strike: Global Offensive. Tidak hanya suara derap kaki yang kini mampu terdengar dan dibedakan dengan lebih jelas, suara senjata dan ledakan juga mengalami pergeseran volume yang cukup signifikan. Seperti di sisi film juga, Anda bisa memanfaatkan fitur THX yang ada untuk mendapatkan sensasi 5.1 yang lebih maksimal, terutama untuk game-game yang memang didesain untuk menciptakan pengalaman sinematik terbaik. Kemampuannya untuk memfasilitasi kebutuhan audio di Playstation 3 dan XBOX 360 juga menjadikannya sebagai alternatif menarik bagi gamer konsol yang membutuhkan perangkat serupa di pasaran.

Kesimpulan

Recon 3D Omega berhasil membuktikan tajinya sebagai salah satu headset gaming terbaik di pasaran, yang tidak hanya menarik bagi gamer kompetitif, apalagi mereka yang menjadikan FPS sebagai genre utama, tetapi juga para penikmat film definisi tinggi yang memang mencari kualitas sinematik secara audio di rumah.

Lupakan ketakutan bahwa nama “Wireless” yang disandangnya akan menjadi kelemahan tersendiri. Recon 3D Omega telah membuktikan dirinya sebagai headset gaming nirkabel yang dapat diandalkan, tidak hanya untuk gaming, tetapi juga untuk fungsi multimedia yang lain. Walaupun tidak terlalu tampil memesona di sisi musik, namun pengalaman THX yang ia tawarkan di film-film definisi tinggi dan game-game andalan Anda akan menjadi nilai jual tersendiri. Ini seperti memiliki sebuah mini-theater mumpuni di dalam telinga. Salah satu yang pantas untuk disayangkan hanyalah ruang suaranya yang terhitung kecil, membuat Anda seolah berada sangat dekat dengan sumber suara yang muncul. Kebocoran suara keluar juga menjadi catatan yang pantas untuk diperhatika. Anda harus memastikan diri tidak mengganggu ruang privasi orang lain dengan volume headset yang ada.

Terlepas dari kelemahan ini, Recon 3D Omega membuktikan diri sebagai sebuah headset gaming yang dapat diandalkan. Nyaman digunakan di telinga untuk waktu yang cukup lama dan fungsi nirkabelnya yang hadir tanpa masalah sama sekali selama pengujian membuatnya menjadi salah satu headset terbaik yang pernah kami jajal di meja Jagat Play. Ia juga menjadi alternatif dari kelangkaan perangkat audio yang memang mendukung fungsi gaming di Playstation 3 dan XBOX 360. Manual pemasangan yang mudah dan dukungan driver yang akan membantu mengkustomisasi kebutuhan audio sesuai dengan preferensi pribadi masing-masing juga menjadi kelebihan yang pantas untuk diacungi jempol. Satu catatan lainnya, Creative tidak menyediakan satu ekstra kabel untuk mengisi kembali headset Anda ketika kosong, sehingga Anda harus mengandalkan kabel dari perangkat yang lain. Namun kesempatan untuk tetap menggunakannya selama diisi pantas untuk diapresiasi.

Recon 3D Omega berhasil membuktikan tajinya sebagai salah satu headset gaming terbaik di pasaran, yang tidak hanya menarik bagi gamer kompetitif, apalagi mereka yang menjadikan FPS sebagai genre utama, tetapi juga para penikmat film definisi tinggi yang memang mencari kualitas sinematik secara audio di rumah. Bagi Anda yang memiliki ekstra budget untuk gaming, headset ini sendiri dibanderol dengan kisaran harga sekitar Rp 2.200.000,- di pasar Indonesia. Sebuah harga yang pantas untuk kualitas yang ia tawarkan.







sumber:




AMD Luncurkan Dua Prosesor Baru: FX-6350 dan FX-4350

Sejak pertama kali diluncurkan pada kuartal akhir tahun lalu, kini AMD merilis varian baru prosesor FX “Vishera” miliknya yang masih berbasiskan arsitektur Piledriver. Menggantikan FX-6300 dan FX-4300, AMD merilis FX-6350 dan FX-4350 yang secara spesifikasi memiliki potensi kinerja yang lebih tinggi, namun dibandrol dengan harga yang sama seperti pendahulunya.


FX-6350 dibandrol pada kisaran harga (SRP) $132, menggunakan enam core yang berjalan pada frekuensi 3.9 GHz  hingga 4.2 GHz pada kondisi Turbo Clock maksimum, yang berarti berbeda 400 MHz lebih tinggi dibandingkan FX-6300 namun cache yang digunakan masih sama yaitu 4MB L2 Cache dan 8MB L3 Cache.

Sedangkan FX-4350 yang memiliki SRP $122, menggunakan empat core yang berjalan pada frekuensi 4.2 GHz hingga 4.3 GHz pada kondisi Turbo Clock maksimum, yang juga memiliki perbedaan 400 MHz dari pendahulunya FX-4300, dan jumlah cache juga ikut meningkat kini menjadi 8MB L3 Cache dari jumlah sebelumnya yang hanya 4MB saja.

Kedua prosesor yang ditempatkan pada kategori “sweetspot” dibawah $150 ini memang sangat menarik. Selain menawarkan performa tinggi khas Piledriver secara “out of the box”, keduanya memiliki feature unlocked base-multiplier yang akan sangat memudahkan para penggunanya untuk memaksimalkan performa prosesor ini.

Dengan peningkatan base dan max (turbo) clock yang signifikan, TDP kedua prosesor ini juga sedikit membengkak dari 95W kini menjadi 125W. Berbeda dengan “kubu sebelah” yang menawarkan prosesor dengan efisiensi daya tinggi, “kubu merah” AMD ini nampaknya masih mengandalkan “Brute Force” dengan clock frekuensi tinggi untuk menghasilkan performa terbaiknya, namun pastinya tetap dengan harga yang masih relatif terjangkau.









sumber

Minggu, 31 Maret 2013

Prosesor Intel Ivy Bridge-E Direncanakan Rilis Q3 2013, Core i7-4960X Menjadi Flagship

Kemunculan prosesor Intel Core Generasi ke-4, ‘Haswell’, sudah ditunggu-tunggu banyak pengguna PC. Namun, ‘Haswell’ bukanlah satu-satunya prosesor Intel Core generasi keempat yang akan menyandang nama Core i 4000 series. Intel secara diam-diam sudah menyiapkan prosesor kelas enthusiast mereka yang terbaru, yakni ‘Ivy Bridge-E’.

Seperti yang anda ketahui sejak tahun 2010 hingga sekarang, prosesor Intel Sandy Bridge, Ivy Bridge, bahkan Haswell sekalipun ‘hanya’ diposisikan sebagai produk kelas mainstream(atau istilahnya: ‘Premium Performance‘), sedangkan yang diposisikan sebagai produk kelas Enthusiast / Extreme adalah Sandy Bridge-E, dan tentu saja Ivy Bridge-E.

Menurut sebuah slide yang ‘bocor’ ke Internet beberapa waktu lalu, Intel berencana untuk meluncurkan Ivy Bridge-E pada kuartal ketiga tahun 2013, tepat satu kuartal setelah Intel merilis Haswell pada kuartal kedua 2013. Pada lini produk kelas enhusiast/extreme ini, Intel menawarkan prosesor Core i7-4960X. Prosesor yang akan menjadi prosesor flagship dari seluruh lini produk Intel Core generasi ke-4 ini masih akan menggunakan arsitektur Ivy Bridge (bukan arsitektur Haswell), proses fabrikasi 22nm Tri-Gate, dan ditujukan bagi socket LGA2011. Masih belum ada kejelasan apakah pengguna motherboard berchipset Intel X79 bisa langsung mendukung prosesor Ivy Bridge-E ini, ataukah Intel sudah menyiapkan chipset pengganti. Prosesor Core i7-4960X akan dilengkapi dengan 6 Inti(Core), dan memiliki 15MB L3 Cache, Core i7-4930K dengan jumlah Core yang sama(6) namun memiliki 12MB L3 cache, sedangkan Core i7-4820K dengan 4 Core dan 10MB L3 Cache.

Strategi Intel yang menempatkan Ivy Bridge-E tepat satu kuartal setelah Haswell membuat kami mempertanyakan apa yang akan terjadi di pasar prosesor nanti. Melihat sejarah beberapa tahun lalu, prosesor Sandy Bridge-E diluncurkan sekitar 3-4 bulan sebelum Ivy Bridge, dan ini berefek kurang baik karena banyak pengguna yang lebih memilih menunggu untuk membeli prosesor Ivy Bridge karena menggunakan arsitektur baru, lebih efisien pada konsumsi daya, menawarkan performance-per-clock yang lebih baik, serta harga platformnya murah. Alhasil, hanya sebagian kecil pengguna dengan kebutuhan akan raw processing power yang memilih Sandy Bridge-E.

Pada roadmap diatas, Intel merilis Ivy Bridge-E setelah kemunculan Haswell, tapi kebanyakan user biasa mungkin sudah akan puas dengan performa yang ditawarkan Haswell, dan membuat mereka tidak punya banyak alasan untuk meng-upgrade ke Ivy Bridge-E. Apa strategi yang sedang direncanakan Intel? Apakah kemampuan komputasi dari Ivy Bridge-E sudah begitu kuatnya hingga-hingga tidak bisa dikejar oleh Haswell? Kita masih harus menunggu jawabnya sekitar 4-5 bulan lagi.












Jumat, 22 Maret 2013

Nvidia GRID VCA, Workstation Pengolah Grafis Seharga Mobil

Mungkin bagi para gamer ataupun enthusiast user pernah berpikir dan bermimpi untuk memiliki sebuah sistem PC impian yang sangat powerfull dengan konfigurasi 4 VGA card kelas High-End sekaligus. Sistem PC dengan konfigurasi 4 VGA card ini memang sudah dianggap sebagai PC berkekuatan monster yang memiliki kemampuan RAW processing yang sangat cepat. Akan tetapi performa PC dengan konfigurasi seperti ini masih belum bisa dibandingkan dengan sebuah performa workstation yang baru saja dirilis oleh Nvidia, Nvidia GRID VCA (Visual Computing Appliance) yang dilengkapi dengan 8 unit VGA card sekaligus dalam satu sistem.

Nvidia GRID VCA ( Visual Computing Appliance )

Sistem workstation Nvidia ini dirancang khusus untuk menangani kebutuhan para desainer, animator dan para pengguna visual computing yang membutuhkan workstation yang memiliki kemampuan proses yang sangat cepat dan mampu melakukan pekerjaan multitasking yang dapat melayani hingga 8 pengguna sekaligus yang mengakes sistem workstation ini dalam waktu yang bersamaan.

Workstation Nvidia GRID  VCA ini memiliki spesifikasi sebagai berikut :

16 Threads CPU
8 ~16 Unit VGA card / GPU.
192 GB RAM
Sistem workstation Nvidia GRID VCA ini dibanderol dengan harga yang sama mahalnya dengan sebuah mobil kelas menengah, dimana workstation Nvidia GRID VCA dengan konfigurasi 8 unit VGA card ini dibanderol dengan harga US$ 24.900,00. Ditambah lagi dengan biaya lisensi untuk software pendukung yang digunakan pada sistem workstation ini yang harus dibayarkan sebesar US$ 2.400,00 / tahun.







sumber:

Sabtu, 02 Maret 2013

AMD Persiapkan VGA Radeon HD 7650/HD 7730?

Radeon HD 7750 reference card

Dengan penundaan perilisan graphics card seri HD 8000 Sea Island, untuk menciptakan varian graphics card terbaru AMD tampaknya hanya dapat mengandalkan chip GPU seri HD 7000 yang ada saat ini. Hal ini terlihat dari kabar yang baru-baru ini kami dapatkan di belantara dunia maya. AMD dikabarkan akan merilis varian terbaru graphics card Southern Island mereka dengan bernama (masih dapat berubah) Radeon HD 7650 atau HD 7730 khusus di wilayah Rusia.

Radeon HD 7650 atau HD 7730 akan diotaki chip GPU Cape Verde Pro seeperti HD 7750. Penggunaan Cape Verde Pro menandakan HD 7650/HD 7730 akan memiliki 512 Stream Processor, 32 Texture Units, dan 16 ROP Units tetapi tidak menutup kemungkinan akan memiliki spesifikasi chip GPU lebih rendah. Tentu saja untuk membedakan dengan HD 7750, Cape Verde Pro pada HD 7650/HD 7730 akan dilengkapi clock GPU lebih rendah, di bawah 800 MHz. Menurut sumber berita kami, ada kemungkinan HD 7650/HD 7730 menggunakan chip GPU Cape Verde Pro yang tidak dapat beroperasi di clock GPU seharusnya. Sayangnya belum diketahui apakah graphics card tersebut juga akan menggunakan memori clock lebih rendah.

Radeon HD 7650/HD 7730 kemungkinan akan diposisikan untuk menghadapai NVIDIA GT 640 dan juga GT 630. Di kelas harga tersebut AMD masih mengandalkan graphics card generasi sebelumnya yaitu HD 6670 GDDR5 dan beberapa varian di bawahnya. Belum diketahui kapankah AMD akan merilis graphics card tersebut tetapi tampaknya akan hadir sebelum HD 8000 Sea Island muncul di pasaran.






Kamis, 28 Februari 2013

AMD Indonesia Media Update: Melihat Senjata Andalan di Tahun 2013


AMD Indonesia ternyata bisa tersenyum manis saat meninggalkan tahun 2012 lalu. Berdasarkan data IDC yang disampaikan oleh Bapak Victor Herlianto, Consumer Bussiness Lead AMD Far East Ltd, terjadi peningkatan market share PC (desktop dan notebook) berbasiskan AMD pada kuartal 4 tahun 2012. Dibandingkan kuartal 3, terjadi peningkatan sebesar 7,2%. Tidak hanya itu, market share PC AMD pada kuartal 4 tahun 2012 juga meningkat 5,2% lebih besar dibandingkan kuartal yang sama di tahun 2011. Satu hal menarik adalah peningkatan market share ini adalah yang terbesar di wilayah APAC (Asia Pacific).


Menurut Bapak Victor Herlianto, meningkatnya market share tidak lepas dari semakin beragamnya pilihan PC AMD berbasiskan prosesor AMD APU terutama di perangkat notebook. Notebook berbasiskan prosesor AMD APU kini memiliki beragam pilihan dari kelas entry-level hingga kelas premium atau high-end. Di kelas entry-level dihuni notebook dengan prosesor AMD C-series dengan kisaran harga di bawah 3 juta rupiah. Sedangkan di kelas high-end saat ini tersedia notebook gaming dengan prosesor AMD APU A-10 seperti dari MSI. Beragam pilihan prosesor AMD APU untuk notebook juga didukung oleh semakin beragamnya pilihan merek terutama dari produsen besar notebook.



Menghadapi tahun 2013 AMD telah siap dengan berbagai senjata terbaru andalan mereka terutama di produk APU. Pada kuartal 3 tahun 2013, AMD direncanakan akan meluncurkan prosesor AMD APU Kabini dan juga Temash. Kabini akan menjadi penerus dari prosesor AMD seri E dan C. Kabini akan dilengkapi, maksimal, empat core Jaguar dan GPU berbasiskan GCN Southern Island. Sedangkan Temash akan menjadi pengganti prosesor APU Hondo untuk perangkat tablet. Temash juga akan dilengkapi, maksimal, empat buah core Jaguar dan GPU berbasiskan GCN tetapi akan memiliki konsumsi daya lebih rendah dari Kabini.

Melihat slide di atas AMD tampaknya akan menghadirkan prosesor AMD APU Richland sebelum kuartal 3 tahun 2013. Sedangkan Kaveri, APU generasi empat, dengan core Steamroller dan GPU GCN sayangnya baru akan hadir di tahun 2014. Kami juga mendapatkan kabar baik bahwa graphics card HD 8000M Solar System akan tersedia dalam waktu dekat kemungkinan sebelum pertengahan tahun.


Tidak hanya di pasar PC, di tahun 2013 ini AMD juga telah siap untuk bermain di pasar console gaming. Console gaming next gen kini dipersenjatai graphics card dari AMD. Nintendo Wii U menggunakan graphics card dari AMD sedangkan Playstation 4 menggunakan prosesor AMD Jaguar delapan core dan juga GPU dengan 18 buah Compute Units (Radeon HD 7860?!) Sedangkan Xbox generasi tiga tampaknya juga akan menggunakan graphics card dari AMD.








sumber:

Playstation 4 Akan Usung APU Terkuat AMD



Pengumuman Sony tentang konsol terbarunya – Playstation 4 memang membuka mata banyak gamer, terutama dari sisi visualisasi yang mampu ditawarkan oleh beberapa game yang rencananya akan dirilis untuknya. Sayangnya, Sony tidak menunjukkan seperti apa bentuk konsol yang ditawarkan ini dan masih memberikan informasi spesifikasi yang masih terkesan mengambang. Playstation 4 hanya dikonfirmasikan akan mengusung sebuah prosessor X86  8 core dan 8 GB DDR5 RAM untuk memperlihatkan kemampuan kasar perangkat next gen. Lantas seberapa kuat sebenarnya konsol yang satu ini? AMD memberikan sedikit gambaran akan apa yang akan ditemukan oleh gamer.

Playstation 4 memang akan menjadikan AMD sebagai inti utama kinerja gaming mereka. Sempat dirumorkan sejak tahun lalu, AMD dipercaya akan mempersiapkan lini arsitektur baru dengan kode nama “Jaguar” untuk memperkuat konsol next gen dari Sony dan Microsoft ini. Tidak perlu diragukan lagi, pengenalan Playstation 4 beberapa waktu lalu menjadi ajang unjuk gigi yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh AMD. Head of Marketing AMD – John Taylor bahkan mengklaim Jaguar sebagai APU terkuat yang pernah diproduksi oleh AMD sejauh ini. Sayangnya, ia tidak memberikan detail lebih lanjut kemampuan seperti apa yang sebenarnya disandang oleh APU ini. Bagaimana dengan pecinta produk AMD yang menginginkannya untuk membangun PC?  Taylor meyakinkan bahwa versi cut down Jaguar akan dirilis secara terpisah sekitar akhir tahun nanti.


Mengusung APU terkuat AMD, apakah cukup untuk membuat Anda mengantisipasi kehadiran Playstation 4?

Dengan perilisan Playstation 4 dan XBOX  720 yang kabarnya akan mengusung APU yang sama, tahun 2013 tampaknya akan menjadi tahun yang manis untuk AMD. Cukup untuk membuat AMD meraih keuntungan yang masif? Sayangnya tidak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa strategi penjualan prosesor untuk konsol selalu berakhir pada keuntungan yang tidak besar. Namun tetap saja, hal tersebut layak untuk diantisipasi.







sumber: